Redaksi, Merdekami.com – Kasus prostitusi kembali terungkap. Kali ini di sebuah penginapan di Kendari. Pelakunya anak muda, masih 20 tahunan. Uangnya tidak seberapa, tapi risikonya besar. Bukan cuma soal hukum, tapi juga soal masa depan.
Kalau mau jujur, kita semua tahu praktik prostitusi bukan hal baru. Sudah lama terjadi. Bedanya sekarang, makin mudah aksesnya. Tinggal buka HP, cari, pesan, bayar. Selesai. Yang dulunya sembunyi-sembunyi di lorong-lorong gelap, sekarang bisa diatur lewat pesan singkat.
Pertanyaannya: kenapa praktik ini terus hidup?
Jawabannya tidak sesederhana “karena mereka nakal”. Banyak yang masuk ke dunia itu karena terdesak. Tidak ada pekerjaan, tidak ada pilihan, atau terjebak lingkungan. Ada juga yang karena gaya hidup, karena tuntutan, atau karena sudah terbiasa.
Tapi bukan berarti kita membenarkan. Tidak. Yang harus kita lakukan adalah melihat persoalan ini sebagai masalah sosial. Karena saat kita hanya fokus pada menangkap pelaku, kita lupa bertanya: kenapa mereka sampai di sana? Apa yang salah dari sistem kita?
Pemberantasan prostitusi tidak bisa hanya lewat razia dan operasi. Harus dibarengi dengan edukasi, perlindungan, dan tentu saja, membuka lapangan kerja yang layak. Karena kalau tidak, hari ini kita tangkap satu, besok akan muncul lagi yang baru.
Jangan lupa juga, pelanggan jasa prostitusi juga harus ditindak. Selama permintaan masih ada, praktik ini akan terus hidup. Jangan sampai hukum hanya tegas pada yang lemah, tapi longgar pada yang punya uang.
Prostitusi bukan hanya soal moral, tapi juga soal pilihan hidup yang sempit. Kalau kita ingin benar-benar menyelesaikannya, kita harus berani melihat lebih dalam, dan bertindak lebih menyeluruh.




Komentar