Catatan Redaksi, Merdekami.com – Udara malam terasa lembab. Di sebuah ruangan dengan pencahayaan temaram, lima sosok duduk mengitari meja bundar. Mereka bukan orang biasa, gerak-geriknya tenang, suaranya berat dengan beban kuasa yang tak terlihat.
“Semua sudah berjalan sesuai rencana?” salah satu dari mereka berbicara, suaranya rendah namun menguasai ruangan.
Seseorang di seberang meja mengangguk, meletakkan selembar dokumen di atas permukaan kayu yang mengkilap. “Kasusnya sudah meledak. Media sibuk memberitakannya. Nama-nama yang kita pilih sudah ditetapkan sebagai tersangka.”
Sejenak, ruangan itu dipenuhi keheningan. Kemudian seseorang tertawa kecil, suaranya dingin. “Dan mereka pikir ini benar-benar tentang keadilan?”
Tak ada yang menjawab, tetapi senyuman tipis terlihat di beberapa wajah.
Di luar sana, publik sedang disuguhi pertunjukan besar. Berita utama di layar kaca berulang kali menayangkan rekaman penggerebekan, pejabat digiring keluar gedung, konferensi pers yang dipenuhi janji-janji pemberantasan korupsi. Namun, tidak ada yang benar-benar bertanya mengapa semua ini terjadi sekarang.
Salah satu pria di ruangan itu menyesap kopinya, lalu berkata santai, “Lalu, bagaimana dengan dia?”
Yang lain mengangkat bahu. “Sudah diperingatkan. Jika dia cerdas, dia akan diam.”
Namun, di suatu tempat, di sebuah kamar kecil dengan dinding penuh catatan dan dokumen yang berserakan, seseorang sedang membaca sesuatu yang tak seharusnya ia baca. Tangannya bergetar saat menyentuh layar ponselnya, mencoba menghubungi seseorang.
Nada sambung terdengar. Sekali. Dua kali. Tidak ada jawaban.
Lalu, pesan masuk. “Berhenti mencari. Ini lebih besar dari yang kau kira.”
Ia menelan ludah.
Di luar jendela, lampu jalanan berkedip dua kali sebelum padam.
Dia terdiam. Cahaya dari layar ponselnya memantulkan ketakutan di matanya. Pesan itu bukan sekadar peringatan, itu ancaman.
Ia melirik dokumen yang berserakan di mejanya. Angka-angka, tanda tangan, percakapan rahasia yang direkam secara diam-diam. Semua mengarah pada satu kesimpulan: kasus yang sedang ramai diberitakan hanyalah pengalihan.
Di luar, jalanan sunyi. Angin malam bertiup pelan, menggoyangkan tirai jendela yang setengah terbuka.
Pikirannya berpacu. Jika ini lebih besar dari yang ia kira, berarti ada orang-orang yang tidak boleh disentuh. Nama-nama yang tak akan pernah masuk ke berita, meskipun mereka adalah dalangnya.
Ponselnya kembali bergetar. Kali ini, panggilan dari nomor tak dikenal.
Ia menelan ludah sebelum mengangkatnya. “Halo?”
Senyap. Hanya suara napas di seberang sana. Lalu, suara berat yang terdengar begitu dekat, begitu dingin.
“Aku harap kau tidak terlalu penasaran.”
Sambungan terputus.
Tiba-tiba, lampu di kamarnya berkedip, lalu padam seketika.
Di kejauhan, deru mesin mobil terdengar mendekat.




Komentar