Visi UHO KEREN, Baru Sadarun Ingin UHO Jadi Motor Kemajuan Sultra

HEADLINE, SULTRA177 Dilihat

Merdekami.com – Calon Rektor Universitas Halu Oleo (UHO), Dr. Baru Sadarun, S.Pi., M.Si., memaparkan visi dan misi kepemimpinannya untuk periode 2026–2030 dengan mengusung konsep “UHO KEREN”. Melalui visi tersebut, ia menargetkan UHO menjadi universitas inovatif berkelas dunia yang tetap berpijak pada kearifan lokal serta berkontribusi bagi pembangunan Sulawesi Tenggara.

Pemaparan visi dan misi berlangsung di Auditorium Mokodompit UHO, Selasa (3/6). Baru Sadarun yang mendapat kesempatan pertama menyampaikan gagasannya menekankan pentingnya transformasi menyeluruh agar UHO mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Menurutnya, UHO memiliki modal yang kuat untuk berkembang menjadi perguruan tinggi berdaya saing global. Saat ini UHO memiliki 14 fakultas, satu program pascasarjana, lebih dari 95 guru besar, serta berbagai capaian akademik yang menjadi fondasi pengembangan kampus.

“UHO memiliki potensi yang luar biasa. Kita memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, kekayaan sumber daya alam Sulawesi Tenggara sebagai laboratorium alam, serta dukungan masyarakat yang besar. Tinggal bagaimana seluruh potensi itu kita kelola melalui transformasi yang terarah dan berkelanjutan,” ujar Baru Sadarun.

Ia menilai UHO tidak boleh berpuas diri hanya sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik di kawasan Sulawesi Tenggara. Perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta persaingan global menuntut perguruan tinggi terus berinovasi.

“Kalau kita hanya puas menjadi yang terbaik di tingkat regional, maka kita akan tertinggal. Hari ini kompetisi perguruan tinggi sudah mendunia. Karena itu UHO harus melakukan lompatan besar agar mampu sejajar dengan universitas-universitas terbaik di Indonesia bahkan dunia,” katanya.

BACA JUGA :  ASR-Hugua Ingatkan Masyarakat Kaledupa Selatan Jangan Salah Pilih Pemimpin

Untuk mewujudkan visi tersebut, Baru Sadarun menawarkan enam agenda utama transformasi melalui program UHO KEREN.

Agenda pertama adalah pembangunan Smart University melalui digitalisasi layanan akademik, administrasi, keuangan, hingga pelayanan mahasiswa dalam satu sistem yang terintegrasi. Di sisi akademik, ia juga mendorong pembaruan kurikulum dengan memasukkan materi kecerdasan buatan, data science, teknologi hijau, dan pedagogi digital.

“Kampus harus bertransformasi menjadi kampus digital tanpa batas. Teknologi bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan agar pelayanan menjadi lebih efektif sekaligus meningkatkan kualitas pembelajaran,” jelasnya.

Di bidang riset, ia berkomitmen menjadikan potensi kelautan, pesisir, pertanian, dan sumber daya alam Sulawesi Tenggara sebagai identitas riset UHO di tingkat internasional. Rencana tersebut diwujudkan melalui pembentukan Pusat Riset Kelautan dan Pesisir Internasional, pengembangan Integrated Agro-Marine Research System, serta perluasan kerja sama dengan lebih dari 50 universitas dan lembaga riset dunia.

“Hasil penelitian tidak boleh hanya berhenti menjadi laporan atau jurnal. Riset harus mampu menjadi teknologi, kebijakan, inovasi, bahkan solusi nyata yang dirasakan masyarakat,” tegasnya.

Dalam peningkatan kualitas lulusan, Baru Sadarun menargetkan tingkat penyerapan alumni mencapai 90 persen dalam waktu enam bulan setelah wisuda pada 2030. Target itu akan didukung melalui penguatan kurikulum abad ke-21, peningkatan kemampuan bahasa asing, literasi digital, serta program magang industri selama dua semester.

Sementara itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia juga menjadi perhatian. Ia menargetkan jumlah guru besar di UHO meningkat menjadi lebih dari 150 orang pada 2030 melalui percepatan profesor, beasiswa doktor luar negeri bagi dosen muda, serta sistem penghargaan berbasis kinerja.

BACA JUGA :  Reses di Lalowaru, Ketua DPRD Konsel Serap Aspirasi Warga Moramo Utara

“Universitas yang hebat lahir dari dosen-dosen yang unggul. Karena itu investasi pada sumber daya manusia merupakan investasi terbaik bagi masa depan UHO,” ujarnya.

Pada aspek internasionalisasi, Baru Sadarun menargetkan UHO masuk dalam QS Asia University Rankings, memperluas program double degree dengan perguruan tinggi di Asia, Eropa, dan Australia, serta meningkatkan jumlah mahasiswa maupun peneliti asing.

Selain itu, ia ingin menjadikan UHO sebagai mitra strategis pemerintah daerah melalui penyediaan kajian ilmiah berbasis data serta mendukung hilirisasi sektor nikel, perikanan, pertanian, dan ekonomi kreatif. Program 5.000 Mahasiswa Membangun Desa melalui KKN tematik juga menjadi bagian dari penguatan pengabdian kepada masyarakat.

Di bidang tata kelola, ia berkomitmen membangun birokrasi kampus yang bersih, transparan, profesional, dan akuntabel melalui pelayanan digital terintegrasi, penyelesaian layanan maksimal tiga hari kerja, serta penerapan pengawasan berbasis teknologi.

“Reformasi tata kelola bukan sekadar slogan. Ini adalah komitmen moral untuk menghadirkan kampus yang bersih, profesional, dan melayani seluruh sivitas akademika dengan cepat dan transparan,” tuturnya.

Menutup pemaparannya, Baru Sadarun mengajak seluruh sivitas akademika, alumni, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat Sulawesi Tenggara untuk bersama-sama mewujudkan transformasi UHO.

“UHO bukan hanya milik sivitas akademika. UHO adalah kebanggaan dan harapan masyarakat Sulawesi Tenggara. Saya percaya, dengan semangat kolaborasi, integritas, dan inovasi, kita mampu membawa UHO menjadi universitas berkelas dunia yang memberikan dampak nyata bagi daerah, bangsa, dan dunia,” pungkasnya.

Komentar